Kami Takut akan Hidup Kami – Cikalleshi

Update Terakhir: October 19, 2014

Sokol CikalleshiKami Takut akan Hidup Kami – Cikalleshi – Pemain yang berusia 24 tahun itu mengatakan bahwa dia dan juga rekan satu timnya tidak sedang berada di dalam kondisi untuk dapat terus bermain setelah menjalani satu perkelahian massal yang menyebabkan ditinggalkannya pertandingan yang berlangsung pada hari Selasa kemarin di Serbia.

Salah seorang pemain dari tim nasional Albania yaitu Sokol Cikalleshi mengatakan dengan jujur bahwa dia dan juga rekan satu timnya semuanya merasa takut untuk kehilangan nyawa mereka selama berlangsungnya perkelahian massal yang terjadi pada hari Selasa kemarin dalam laga antara Albania kontra Serbia.

Ke dua Negara tersebut sedang bermain dalam laga lanjutan babak penyisihan grup Piala Eropa 2016 yang bertempat di Belgrade pada hari Selasa kemarin ketika para fans dari tim tamu, yang dilarang untuk menghadiri laga tersebut, menerbangkan sebuah pesawat mainan di atas stadion dimana pesawat tersebut memperlihatkan bendera dari Albania.

Cikalleshi – Salah seorang pemain bertahan Serbia yaitu Stefan Mitrovic menarik bendera tersebut ke bawah, hal yang memicu kemarahan di antara para pemain Albania, dan pertandingan tersebut harus ditinggalkan ketika para pendukung sang tuan rumah bergegas ke dalam lapangan untuk menyerang para tim tamu.

“Itu sangat buruk, kami merasa takut akan hidup kami sendiri. Pada awalnya, kami tidak ingin agar para pemain Serbia untuk merobek bendera kami yang terbang di atas lapangan. Begitulah bagaimana semuanya dimulai.”

“Kami tidak merasa aman. Kami tidak merasa aman sampai kami mencapai terowongan dan juga ruang ganti. Empat pemain Albania terluka dalam perkelahian tersebut dan kami tidak ingin melanjutkan laga lagi setelah peristiwa tersebut.”

“Ada rencana untuk terus bermain, akan tetapi kami tidak mau. Seperti semua pemain yang berada di bangku cadangan, saya berlari ke dalam lapangan akan tetapi saya tidak dipukul, dan saya juga tidak memukul siapa pun.”

“Tepat setelah laga tersebut, kami langsung dikawal ke bandara oleh polisi dan kemudian terbang ke Tirana.”

Cikalleshi juga memberikan pujian kepada pemain bintang Serbia yang telah melindungi rekan satu timnya ketika kekerasan tersebut terjadi, dan secara khusus menyebut Branislav Ivanovic untuk memberikan pujian tersendiri.

“Para pemain Serbia ingin melindungi kami saat para penggemar memasuki lapangan. Branislav Ivanovic berada di sana terutama untuk menenangkan situasi.”
“Bahkan sebelum pertandingan, terkait dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, dia datang ke kami dan berkata, ‘Hey bung, itu hanya satu laga sepak bola ‘.”

“Akan tetapi Mitrovic, yang meraih bendera Albania, mengejutkan kami semua dengan itu.”

Setelah laga yang ditinggalkan tersebut Ivanovic kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa mereka merasa menyesal dikarenakan kemunduran di dalam sepak bola tersebut.

“Kami hanya bisa merasa menyesal bahwa sepak bola mengambil satu langkah ke belakang. Atas nama tim saya, yang bisa saya katakan adalah bahwa kami ingin terus melanjutkan laga dan bahwa kami melindungi para pemain Albania setiap langkah hingga ke terowongan (setelah kerusuhan terjadi).”

Kami Takut akan Hidup Kami – Cikalleshi